Etos Kerja Dalam Islam: Kerja Keras, Tekun, Ulet dan Teliti - Teras Islam

    Social Items

Etos Kerja Dalam Islam: Kerja Keras, Tekun, Ulet dan Teliti
Islam merupakan agama yang universal dan sempurna. Ajaran Islam tidak hanya menyentuh masalah akidah dan tata cara ibadah, tetapi juga hukum perdagangan, politik, kemasyarakatan, dan perilaku terpuji. Salah satu contoh perilaku terpuji yang diajarkan dalam Islam adalah perilaku kerja keras, tekun, ulet, serta teliti.

Salah satu kriteria seorang muslim yang baik adalah suka bekerja keras, tekun, ulet, dan teliti. Banyak orang yang memahami Islam dari sudut pandang yang salah dalam perilaku tersebut. Hal ini karena mereka hanya melihat bahwa seorang muslim diajarkan untuk selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah. Hal ini seolah-olah bertentangan dengan sikap kerja keras, tekun, ulet, dan teliti. Pemahaman yang seperti ini sangat menyesatkan. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja keras dan berdoa serta berserah diri secara seimbang. Perhatikan firman Allah berikut ini.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Artinya: Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. al-Jumu’ah: 10)

# Kerja keras

Seorang muslim dianjurkan untuk selalu berusaha, selalu bekerja keras. Kerja keras dan berdoa serta berserah diri kepada Allah merupakan satu kesatuan. Perhatikan firman Allah berikut ini.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ 

Artinya: ... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ....(QS. ar-Raad : 11)

Ayat di atas memperlihatkan bahwa bagi seorang muslim kerja keras dan berusaha untuk mencapai kebaikan, memperbaiki tingkat kehidupan, mencari rezeki, adalah kewajiban. Seorang muslim tidak dianjurkan untuk berdiam diri, pasif, atau bermalas-malasan dengan hanya berdoa danmengharap pertolongan Allah (Al-Jaza’iri, 2009 : 317 – 319). Seorang muslim yang baik adalah mereka yang bekerja keras, berusaha dengan tekun, ulet, dan mengerjakan segala sesuatunya dengan teliti, sambil terus berdoa dan berserah diri kepada Allah.

# Tekun

Ketekunan seseorang terlihat ketika ia terus melakukan pekerjaannya dan terus berusaha mencapai apa yang dicita-citakannya di saat orang lain mulai enggan melakukannya. Ketekunan berarti berdisiplin diri dalam suatu hal dan terus melakukan usaha langkah demi langkah. Orang yang tekun tidak akan merasa bosan untuk terus berusaha.

Islam mengajarkan ketekunan melalui salat wajib yang harus dikerjakan secara rutin lima waktu setiap hari. Meskipun hasil dari perbuatannya belum dapat dirasakan, tetapi orang yang tekun tetap bekerja dan berusaha. Ia tidak mengharapkan hasil yang instan, tetapi dengan tekun mencapainya dan mengusahakannya sedikit demi sedikit.

Orang yang tekun akan merasakan hasil pekerjaannya ketika telah melewati proses dan waktu yang cukup lama. Saat itulah akan terlihat manfaat dari ketekunannya. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang menginginkan hasil secara instan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat ketika di awal bulan Ramadan masjid dipenuhi jamaah Salat Tarawih, tetapi di tengah bulan Ramadan jamaah menipis bahkan tinggal beberapa saf saja. Ini menunjukkan perilaku tekun belum diterapkan dengan baik.

# Ulet

Sifat ulet mirip dengan tekun. Orang yang tekun selalu mengerjakan pekerjaannya dengan rutin dan teratur, sedangkan orang yang ulet tetap berusaha meskipun menghadapi hambatan dan kesulitan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan atau usaha kita tidak selalu mudah. Kadang-kadang kita menghadapi kesulitan dan hambatan. Saat itulah dibutuhkan sikap ulet. Orang yang ulet akan terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang tidak ulet akan mudah putus asa atau enggan melanjutkan usaha atau pekerjaannya ketika menghadapi kesulitan dan hambatan. Perhatikan firman Allah berikut ini.

إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Artinya: .... Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang- orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)

# Teliti

Ketelitian sangat diperlukan ketika kamu melakukan pekerjaan. Sebagai contoh, ketika mengerjakan soal ujian, apabila tidak teliti kamu akan melakukan kesalahan yang dapat berakibat fatal. Ketelitian juga diperlukan oleh seorang dokter yang sedang mengoperasi pasien, guru yang sedang mengoreksi pekerjaan muridnya, akuntan yang sedang mengerjakan laporan  keuangan, dan sebagainya. Ketelitian diperlukan dalam semua bidang pekerjaan.

Sikap teliti diperintahkan Allah salah satunya dalam menerima berita dari orang lain. Perhatikan firman Allah dalam Surah al-Hujurat ayat 6 berikut ini.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepada- mu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Berdasarkan ayat di atas kita diperintahkan untuk bersikap teliti dalam menerima suatu berita. Kita tidak boleh mempercayai berita begitu saja, tetapi harus meneliti kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak.

Dalam kehidupan sehari-hari kamu mungkin sering menemukan kasus- kasus kesalahan akibat tidak adanya ketelitian. Kasus yang disebabkan karena ketidaktelitian terjadi dalam hal-hal besar misalnya dokter yang meninggalkan alat operasi di dalam tubuh pasien, hingga hal-hal kecil seperti tertinggalnya bekal ketika hendak bepergian. Dalam semua hal, ketelitian selalu dibutuhkan. Oleh karena itu biasakanlah untuk selalu bersikap teliti.

Etos Kerja Dalam Islam: Kerja Keras, Tekun, Ulet dan Teliti

Etos Kerja Dalam Islam: Kerja Keras, Tekun, Ulet dan Teliti
Islam merupakan agama yang universal dan sempurna. Ajaran Islam tidak hanya menyentuh masalah akidah dan tata cara ibadah, tetapi juga hukum perdagangan, politik, kemasyarakatan, dan perilaku terpuji. Salah satu contoh perilaku terpuji yang diajarkan dalam Islam adalah perilaku kerja keras, tekun, ulet, serta teliti.

Salah satu kriteria seorang muslim yang baik adalah suka bekerja keras, tekun, ulet, dan teliti. Banyak orang yang memahami Islam dari sudut pandang yang salah dalam perilaku tersebut. Hal ini karena mereka hanya melihat bahwa seorang muslim diajarkan untuk selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah. Hal ini seolah-olah bertentangan dengan sikap kerja keras, tekun, ulet, dan teliti. Pemahaman yang seperti ini sangat menyesatkan. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja keras dan berdoa serta berserah diri secara seimbang. Perhatikan firman Allah berikut ini.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Artinya: Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. al-Jumu’ah: 10)

# Kerja keras

Seorang muslim dianjurkan untuk selalu berusaha, selalu bekerja keras. Kerja keras dan berdoa serta berserah diri kepada Allah merupakan satu kesatuan. Perhatikan firman Allah berikut ini.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ 

Artinya: ... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ....(QS. ar-Raad : 11)

Ayat di atas memperlihatkan bahwa bagi seorang muslim kerja keras dan berusaha untuk mencapai kebaikan, memperbaiki tingkat kehidupan, mencari rezeki, adalah kewajiban. Seorang muslim tidak dianjurkan untuk berdiam diri, pasif, atau bermalas-malasan dengan hanya berdoa danmengharap pertolongan Allah (Al-Jaza’iri, 2009 : 317 – 319). Seorang muslim yang baik adalah mereka yang bekerja keras, berusaha dengan tekun, ulet, dan mengerjakan segala sesuatunya dengan teliti, sambil terus berdoa dan berserah diri kepada Allah.

# Tekun

Ketekunan seseorang terlihat ketika ia terus melakukan pekerjaannya dan terus berusaha mencapai apa yang dicita-citakannya di saat orang lain mulai enggan melakukannya. Ketekunan berarti berdisiplin diri dalam suatu hal dan terus melakukan usaha langkah demi langkah. Orang yang tekun tidak akan merasa bosan untuk terus berusaha.

Islam mengajarkan ketekunan melalui salat wajib yang harus dikerjakan secara rutin lima waktu setiap hari. Meskipun hasil dari perbuatannya belum dapat dirasakan, tetapi orang yang tekun tetap bekerja dan berusaha. Ia tidak mengharapkan hasil yang instan, tetapi dengan tekun mencapainya dan mengusahakannya sedikit demi sedikit.

Orang yang tekun akan merasakan hasil pekerjaannya ketika telah melewati proses dan waktu yang cukup lama. Saat itulah akan terlihat manfaat dari ketekunannya. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang menginginkan hasil secara instan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat ketika di awal bulan Ramadan masjid dipenuhi jamaah Salat Tarawih, tetapi di tengah bulan Ramadan jamaah menipis bahkan tinggal beberapa saf saja. Ini menunjukkan perilaku tekun belum diterapkan dengan baik.

# Ulet

Sifat ulet mirip dengan tekun. Orang yang tekun selalu mengerjakan pekerjaannya dengan rutin dan teratur, sedangkan orang yang ulet tetap berusaha meskipun menghadapi hambatan dan kesulitan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan atau usaha kita tidak selalu mudah. Kadang-kadang kita menghadapi kesulitan dan hambatan. Saat itulah dibutuhkan sikap ulet. Orang yang ulet akan terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang tidak ulet akan mudah putus asa atau enggan melanjutkan usaha atau pekerjaannya ketika menghadapi kesulitan dan hambatan. Perhatikan firman Allah berikut ini.

إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡ‍َٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Artinya: .... Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang- orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)

# Teliti

Ketelitian sangat diperlukan ketika kamu melakukan pekerjaan. Sebagai contoh, ketika mengerjakan soal ujian, apabila tidak teliti kamu akan melakukan kesalahan yang dapat berakibat fatal. Ketelitian juga diperlukan oleh seorang dokter yang sedang mengoperasi pasien, guru yang sedang mengoreksi pekerjaan muridnya, akuntan yang sedang mengerjakan laporan  keuangan, dan sebagainya. Ketelitian diperlukan dalam semua bidang pekerjaan.

Sikap teliti diperintahkan Allah salah satunya dalam menerima berita dari orang lain. Perhatikan firman Allah dalam Surah al-Hujurat ayat 6 berikut ini.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepada- mu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Berdasarkan ayat di atas kita diperintahkan untuk bersikap teliti dalam menerima suatu berita. Kita tidak boleh mempercayai berita begitu saja, tetapi harus meneliti kebenarannya terlebih dahulu sebelum bertindak.

Dalam kehidupan sehari-hari kamu mungkin sering menemukan kasus- kasus kesalahan akibat tidak adanya ketelitian. Kasus yang disebabkan karena ketidaktelitian terjadi dalam hal-hal besar misalnya dokter yang meninggalkan alat operasi di dalam tubuh pasien, hingga hal-hal kecil seperti tertinggalnya bekal ketika hendak bepergian. Dalam semua hal, ketelitian selalu dibutuhkan. Oleh karena itu biasakanlah untuk selalu bersikap teliti.