Seputar Ayat Kursi, Terjemahan dan Maknanya

Seputaran Ayat Kursi, Terjemahan dan Maknanya
Ayat Kursi, merupakan salah satu ayat yang berada di dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat ke 255. Ayat ini berisi tentang ketauhidan kepada Allah swt. Ayat ini merupakan ayat yang agung dan memiliki faedah yang sangat banyak, sehingga setiap umat Islam di era milenial ini harus menghafal ayat dan terjemahannya, dan mengetahui makna yang terkandung di dalamnya.

Namun demikian, di era sekarang ini, banyak kaum muda yang dirinya sendiri kurang yakin akan adanya ketauhidan, mereka seakan akan masih mamang dan belum percaya sepenuhnya akan ajaran tauhid tersebut. Walaupun sebenarnya mereka mengakui Tuhan itu hanyalah satu yaitu Allah SWT, namun tidak banyak dari mereka yang terbesit keraguan dalam hatinya. Maka dari itu, diperlukan dalil-dalil baik yang bersal dari Al-Quran ataupun hadis Nabi Muhammad SAW yang secara hakiki ditafsirkan ke dalam makna yang lebih luas. Sehingga akan semakin menambah keimanan masyarakat.

Bacaan Ayat Kursi dan Terjemahannya


ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ 

Artinya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah: 255)

Inilah yang disebut ayat kursi. Ayat ini mengandung suatu hal yang sangat agung. Dan terdapat sebuah hadist shahih dari Rasulullah SAW, yang menyebutkan bahwa ayat tersebut adalah ayat yang paling utama di dalam kitab Allah (al-Quran).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Nabi SAW pernah bertanya kepadanya: “apakah ayat yang papling agung di dalam kitab Allah?” “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” sahut Ubay bin Ka’ab. Maka Nabi SAW mengulang-ulang pertanyaan tersebut, dan kemudian Ubay bin Ka’ab menjawab: “Ayat kursi.” Lalu beliau mengatakan: “Engkau akan dilelahakan oleh ilmu, hai Abu Mundzir. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat kursi itu mempunyau satu lidah dan dua bibir yang senantiasa menyucikan al-Malik (Allah) di sisi tiang ‘Arsy.

Hadist tersebut juga diriwayatkan Imam Muslim tanpa adanya tambahan, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat kursi itu mempunyai satu lidah dua bibir yang senantiasa menyucikan al-Malik (Allah) di sisi tiang ‘Arsy.”

Makna Yang Terkandung dalam Ayat Kursi


# Allah, tiada tuhan selain Dia

Allah adalah sebutan khusus bagi tuhan yang berarti hakikat yang meliputi semua sifat-sifat kesempurnaan, ketuhanan, keagungan dan keindahan. Dengan nama itu, Dia mengenalkan diri. Nama yang lebih utama dari nama-Nya yang lain. Dan, kepada nama itu semua sifat-Nya Dia sandarkan.

Tiada tuhan pencipta selain Dia. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya Dialah Zat Maha Suci yang memiliki hak mencipta dan disembah. Mengesakan Allah Swt merupakan asas akidah yang benar dan inti dakwah semua utusan, mulai dari Nabi Adam hingga nabi dan rasul terakhir, Muhammad Saw.

Para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian. Pertama, Tauhid Rububiyah. Yaitu meyakini Allah sebagai Tuhan pencipta segala sesuatu. Tiada pencipta selain Dia. Kedua, Tauhid Uluhiyah. Yaitu meyakini Allah sebagai Tuhan yang berhak atas segala bentuk ibadah; baik lahir maupun bathin. Tiada tuhan yang wajib disembah selain Dia. Ketiga, Tauhid Asma, Sifat dan Perbuatan. Yaitu meyakini bahwa setiap nama-nama Allah mengandung makna dan memiliki pengaruh tertentu. Tauhid sifat mengharuskan kita meyakini Tuhan secara bulat tanpa keraguan. Sedangkan tauhid perbuatan ialah meyakini bahwa tidak ada perbuatan seorang pun yang menyamai perbuatan Allah Swt.

Menurut Sayyid Quthb penggalan ayat ini merupakan keesaan yang jelas dan pasti. Keesaan ini tidak dapat diselewengkan atau disamarkan sebagaimana yang terjadi pada agama-agama terdahulu sepeninggal para rasulnya, seperti aqidah trinitas yang diada-adakan oleh institusi-institusi gereja sesudah Nabi Isa As meninggalkan umatnya.

# Yang hidup kekal

Al-Hayyu; kepada hidup yang sebenar hidup. Dialah sumber segala kehidupan yang sebenarnya. Dialah tuhan, dialah Allah. Tidak ada yang sebenarnya hidup, melainkan Dia. Sebab segala yang kelihatan hidup ini, bersumber dari hidup itu dan kembali ke dalam hidup itu. Maka hidup yang sebenar hidup itu tidaklah pernah merasai mati. Dia hidup terus. (Hamka, dalam tafsir al-azhar).

"Kehidupan" yang menjadi sifat Allah Yang Maha Esa ini adalah kehidupan zatiyah yang tidak datang dari sumber lain seperti hidupnya makhluk yang merupakan pemberian dan karunia dari Al-Khaliq. Oleh karena itu, Allah Esa (bersendirian) dengan kehidupan dalam pengertian ini. Kehidupan-Nya itu adalah kehidupan yang azali dan abadi, yang tidak berawal dari suatu permulaan dan tidak berakhir pada suatu kesudahan. Kehidupan Allah adalah kehidupan yang lepas dari ikatan waktu yang senantiasa menyertai kehidupan makhluk yang terbatas, berpermulaan, dan berkesudahan. Kehidupan makhluk sejatinya merupakan sarana untuk beramal demi kehidupan yang kekal abadi di akhirat.

Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah, kehidupan yang baik adalah sikap qanaah, rida, rezeki yang melimpah, dan sebagainya. Padahal, makna sebenarnya adalah hati yang hidup dan merasakan kebahagiaan karena beriman dan mengenal Tuhan.

# Zat yang senantiasa mengurus makhluk-Nya

Artinya, Allah Swt ada dengan sendiri-Nya dan membuat yang lain menjadi ada. Menurut ibn Abbas, al-Qayyum berarti tidak binasa dan tidak berubah. Menurut Mujahid, al-Qayyum adalah yang berdiri sendirinya, sedangkan yang lain bergantung kepada Nya. Menurut Qattadah, al-Qayyum adalah zat yang mengatur makhluk-Nya.

Sayyid Quthb mengartikan al-Qayyum adalah bahwa Alllah Swt selalu mengurusi segala yang maujud. Maka, tidak ada urusan sesuatu melainkan bersandar kepada keberadaan dan Pengaturan-Nya.

Karena itu, hati seorang muslim, kehidupannya, keberadaanya, dan keberadaan segala sesuatu di sekitarnya selalu berhubungan dengan Allah Yang Maha Esa, yang mengatur urusannya dan urusan segala sesuatu di sekitarnya, sesuai dengan hikamh dan tatanan-Nya.

# Tidak pernah mengantuk dan tidak tidur

Kalimat ini menyempurnakan kesempurnaan hidup Allah. Karena, rasa kantuk dan tidur hanya hinggap pada makhluk yang bisa merasa letih, lemah, dan binasa. Kantuk dan tidur tidak akan menghinggapi Zat pemilik keagungan, kekuasaan, dan kemuliaan. Sebab, tidur itu merupakan perubahan dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Sedangkan Allah sama sekali tidak berubah, mengingat perubahan merupakan karakter sesuatu yang baru.

"Dan Allah tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dia Maha mendengar lagi Maha melihat. (al-Syura:11).

# Bagi-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi

Ayat ini merupakan bantahan bagi orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah Swt. Mencipta, menguasai, mengarahkan dan mengatur semuanya adalah milik Allah. Dialah satu-satunya zat yang berhak disembah, sebab Dialah pencipta, pemberi rezeki dan penguasa.

Ini adalah pemilikan yang lengkap, mutlak, tidak terikat pada suatu ikatan dan syarat, tak akan pernah hilang dan tanpa kongsi. Inilah salah satu pemahaman terhadap keesaan Tuhan. Pemahaman ini menafikan semua bentuk persekutuan yang digambarkan akal dan pikiran manusia. Yaitu, apabila kepemilikan yang hakiki itu murni kepunyaan Allah, maka manusia tidak mempunyai kepemilikan pada dasarnya sama sekali.

# Tiada yang bisa memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya

Tidak ada syafaat tanpa izin dan rido-Nya. Segala perkara milik-Nya. Hukum yang berlaku adalah hukum-Nya. Syafaat adalah meminta kebaikan kepad orang lain untuk orang lain.

Menurut al-Raghib al-Isfahani, syafaat berasal dari kata syafa’a yang artinya menggabung sesuatu dengan sesuatu yang mirip, sehingga syafaat bisa diartikan bergabung dengan orang lain yang bisa menolong atau memintakan sesuatu.

Syafaat itu ada dua macam:

1. Syafaat di dunia, yaitu menjadikan perantara di hadapan orang yang memiliki martabat dan kekuasaan untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkan, atau mengembalikan sesuatu kepada yang berhak. Syafaat ini hukumnya boleh selama masih dibenarkan syariat.

2. Syafaat di akhirat: ada empat jenis syafaat di akhirat, pertama syafaat besar atau umum. Ini hanya untuk Rasulullah Saw. Kedua, syafaat Rasulullah kepada sebagian umatnya yang bermaksiat. Ketiga, syafaat Rasulullah Saw untuk pamannya Abu Thalib agar Allah meringankan siksanya pada hari kiamat. Keempat, syafaat para nabi, malaikat, ulama, dan syuhada.

# Allah mengetahui semua yang ada di hadapan dan di belakang mereka

Maksud ayat ini adalah Allah mengetahui semua yang ada sebelum dan sesudah mereka, semua yang terbetik dalam kalbu, semua yang samar, semua yang sudah dan yang belum mereka lakukan, segala sesuatu yang terkait dengan urusan dunia dan akhirat.

Letak keindahan ayat ini adalah cakupannya yang merangkum tiga masa sekaligus. Masa lampau, masa kini, dan masa depan.

Ayat ini juga menegaskan tentang tiadanya syafaat. Sebab, Allah Maha Mengetahui setiap hal yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik yang sedang mereka lakukan atau apa yang bakal terjadi pada diri mereka.

# Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya

Allah memberi izin bagi hamba-Nya untuk menyingkap sedikit dari ilmu-Nya dalam kadar tertentu. Ayat ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang dimiliki manusia hanyalah yang Allah ajarkan kepada mereka. Ayat ini mirip dengan perkataan khidhr kepada Musa ketika burung mematuk ikan di laut, ”Ilmuku dan ilmumu yang mengurangi ilmu Allah hanyalah seperti berkurangnya air laut yang menempel di paruh burung ini.” (HR.Bukhari)

Artinya, ilmu yang diketahui manusia hanyalah yang Allah kehendaki untuk mereka ketahui. Masih banyak sekali rahasia yang dijauhkan dari manusia. Namun demikian, manusia tetap terpedaya juga dengan sejumput ilmunya itu, yang diperolehnya setelah ada izin Allah. Ia terpedaya, lalu mengira dirinya sebagai Tuhan, mengkufuri dan mengingkari keberadaan Tuhannya.

# Kursi Allah meliputi semua langit dan bumi

Menurut al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan kebesaran ciptaan Allah Swt., yang menunjukkan kekuasaan-Nya. Buktinya, Allah tidak pernah merasa berat mengurus perkara besar ini. Al-Kursi adalah zat yang berada di Arasy yang ukurannya lebih besar dari langit dan bumi, namun lebih kecil dari Arasy. Sedangkan menurut Ibn Abbas kursi Allah artinya ilmu-Nya. Pendapat ini dikuatkan oleh at-Thabari.

Menurut Sayyid Quthb, kursi biasanya digunakan untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi. Inilah, hakikat dari segi penalaran.

# Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya

Artinya, Allah tidak merasa berat dan tidak sulit memelihara langit, bumi, serta segala makhluk di antara keduanya. Menurut al-Barusawi, tidak berat dan tidak sulit bagi Allah untuk memelihara langit dan bumi karena yang dekat atau jauh, yang sedikit dan banyak, sama saja bagi-Nya.

# Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung

Inilah sifat-sifat Allah yang digunakan untuk menutup ayat ini, Dia Esa dengan ketinggian dan kebesaran-Nya. Tidak seorang hamba pun yang berusaha untuk mencapai posisi ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kernadahan dan kehinaan, serta kepada azab dan kehinaan di akhirat. Dia berfirman:

"Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi..." . (al-Qashash:83).

Dan juga dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt berfirman: ”Kesombongan adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah sarung-Ku.” (HR. Abu Dawud).

Manusia berusaha meraih ketinggian dan kebesaran, serta menyombongkan diri. Akan tetapi, bagaimanapun juga tidak akan dapat melampaui kedudukannya sebagai "hamba" Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Sehingga pada dasarnya manusia tidak boleh menyombongkan diri, karena segala yang ada di dalam dirinya, dan yang berada di luar dirinya milik Allah swt, yang sewaktu-waktu bisa diangkat kembali. Wallahu a'lam.
Load comments