Teras Islam

    Social Items

Makna Istiqomah dalam Islam
Istiqomah merupakan sifat yang berkaitan erat dengan akhlak atau karakter seseorang. Di dalam islam ada yang disebut dengan akhlak mahmudah atau karakter baik dan akhlak madzmumah atau karakter buruk. Dalam kajian keilmuan keduanya memiliki cabang yang bermacam-macam, dan setiap spesifikasi akhlak atau karakter tersebut memiliki dampak, dimana akhlak baik akan mendatangkan kebaikan sedangkan akhlak yang buruk akan mendatangkan keburukan. Salah satu cabang dalam pembahasan akhlak ini adalah istiqomah.

Secara epistemologi istiqomah berasal dari “istiqoma-yastaqimu” yang berarti tegak lurus. Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qaama” yang berarti berdiri.

Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Sedangkan secara terminologi, istiqomah bisa diartikan dengan beberapa pengertian, diantaranya pendapat para sahabat yakni, Abu Bakar As-Shiddiq ra yang mengungkapkan bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun). Kemudian Umar bin Khattab ra berkata, “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”. Sementara Utsman bin Affan ra berkata, “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah Taala”. Dan Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”.

Selanjutnya beberapa pendapat ulama yaitu, Al-Hasan berkata, “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”. Mujahid berkata, “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah Ta’ala”. Ibnu Taimiah berkata, “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri kanan”.

Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun.

Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam perjalanan hidup.

Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam medan perang terhadap dirinya sendiri. Meskipun tahapan kehidupan dan tokoh sentralnya mengalami perubahan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan dan di seluruh tahapan-tahapan kehidupannya.

Maka dapat dipahami bahwa istiqomah adalah bentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten dan teguh pendirian dalam menegakkan dan melakukan sesuatu secara konsisten, tetap, berkesinambungan serta terus menerus dalam kondisi apapun.

Makna Istiqomah dalam Islam

Keutamaan Sifat Istiqomah yang Dimiliki Seseorang
Istiqomah adalah meneguhkan hati untuk tetapi mengikuti tuntunan Allah melalui ajaran syariat Islam yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Istiqomah itu berat, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah teruji keimanannya. Sebagai sifat yang terpuji, istiqomah memiliki begitu banyak keutamaan, diantara keutamaan-keutamaan itu adalah sebagai berikut:

# Istiqomah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.

Dalam sebuah hadits digambarkan: Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqomahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqomah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (H.R. Bukhari).

# Istiqomah merupakan jalan menuju ke surga.

Sebagaimana firman Allah dala al-Quran surat Fushilat ayat 30 sebagai berikut.

نَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

# Orang yang memiliki sifat istiqomah akan mendapatkan imbalan dari Tuhannya

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar".(QS. Al-Jin: 16)

# Istiqomah merupakan ciri mendasar orang mukmin.

Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Tsauban ra, Rasulullah saw. bersabda, “Istiqomahlah kalian, dan janganlah kalian menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu’ (baca; istiqomah dalam whudu’, kecuali orang mukmin.) (H.R. Ibnu Majah)

Demikianlah empat keutamaan sifat istiqomah yang dimiliki seseorang yang mampu menjalankannnya. Semoga postingan ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk selalu istiqomah berada di jalan Allah swt.

Keutamaan-keutamaan Sifat Istiqomah

Ayat-ayat Al-Quran tentang Istiqomah
Dalam al-Quran banyak sekali ayat-ayat tentang istiqomah, begitu pula di dalam hadis Rasulullah swa. Berikut ini ayat-ayat al-Quran tentang istiqomah.

# Istiqomah pada jalan yang benar

اسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Huud : 112)

# Masuk surga bagi orang yang istiqomah

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

13. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

14. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

# Allah meneguhkan hati orang yang beriman, dan Allah menyesatkan hati orang yang zalim

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Ibrahim: 27)

# Malaikat akan mendatangi orang yang istiqomah

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushilat: 30)

# Jangan mengikuti hawa nafsu

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)". (QS. As-Syura: 15)

Demikianlah 6 ayat al-Quran tentang istiqomah, semoga menjadi pembelajaran dan dapat meneguhkan hati kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah swt.

Ayat-ayat Al-Quran tentang Istiqomah

Berlaku Tawadhu Pada Orang Yang Ada di Bawah Tingkatanmu
Tawadhu menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tawadhu bukan berarti bahwa menghinakan diri, tetapi tawadhu adalah suatu perbuatan mulia yang dapat menghindarkan diri dari sifat sombong. Tawadhu merupakan perbuatan merendahkan hati agar terhindar dari kehinaan di depan Allah. Sehingga sifat ini dapat berlakuk kepada siapa saja.

Apabila kamu menemui seseorang yang lebih muda umurnya darimu, atau lebih rendah kedudukannya darimu, maka janganlah kamu meremehkanya. Boleh jadi orang tadi lebih sehat hatinya daripadamu, atau lebih sedikit dosanya daripadamu, atau lebih besar taqarubnya kepada Allah daripadamu.

Bahkan sekiranya kamu melihat seorang fasik dari kamu kelihatan lebih shaleh daripadanya, maka janganlah kamu berlaku sombong terhadapnya. Pujilah Allah lantaran Dia telah menyelamatkanmu dari ujian yang Dia berikan padanya, dan hendaknya kamu senantiasa ingat bahwa boleh jadi dalam amal-amal shalehnu terdapat unsur riya dan ujub yang bisa menghapuskannya, atau boleh jadi pada diri pendosa tersebut terdapat rasa penyesalan. Perasaan remuk redam dan ketakutan terhadap dosa-dosanya, yang bisa menjadi  sebab diampunkannya dosa-dosanya.

Dari Jundab ra, bahwa rasulullah saw, bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: "Demi Allah, Alah tidak akan mengampuni si fulan" Lantas Allah ta’ala berfirman: "Siapa gerangan yang berani bersumpah atas nama-Ku kalau Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku ampuni si fulan dan Aku hapuskan amal-amal (baik) mu.

Jadi kamu jangan bersikap sombong terhadap seseorang, bahkan sekiranya kamu melihat orang fasik, maka kamu jangan merasa lebih tinggi darinya, atau kamu mempergaulinya dengan sikap seorang yang sombong.

Allah swt, telah berfirman:

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr: 88)

Boleh jadi apa yang ditegaskan oleh ayat tentang tujuan penciptaan langit dan bumi, menimbulkan pertanyaan: mengapa kaum musyrikin dapat bergelimang dalam kenikmatan hidup, padahal mereka mendurhakai Allah? Mengapa mereka yang telah diancam oleh Allah, masih dibiarkan dan diulur dengan aneka kenikmatan? Nah, ayat ini menjawab pertanyaan yang timbul dalam benak itu.

Demikian Thahir Ibn Asyur. Dan itu pula sebabnya - tulisnya lebih jauh - ayat ini tidak menggunakan kata wa / dan sebelum kata laa tanuddanna karena jika didahului oleh dan – sebagaimana dalam QS. Thaha [20]: 131 walaa tamuddanna – maka ia sekedar sebagai larangan yang tidak mempunyai hubungan dengan ayat sebelumnya.

Dapat juga dikatakan bahwa karena apa yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada Nabi Muhamad saw, begitu juga apa yang dianugrahkan-Nya kepada beliau sedemikian besar, maka sangat wajar jika beliau diingatkan agar janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matamu yakni jangan memberi perhatian yang besar serta tergiur kepada apa yang dengannya kami telah senangkan untuk sementara lagi cepat berlalunya untuk golongan-golongan di antara mereka orang-orang kafir itu, karena apa yang mereka peroleh dan cara penggunaannya adalah batil dan bukan "haq", dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka karena keengganan mereka beriman, atau akibat jatuhnya siksa atas mereka dan kesudahan buruk yang akan mereka alami.

Adapun terhadap sesama kaum beriman, maka jalinlah hubungan harmonis dengan mereka dan rendahkanlah sayapmu yakni bersikap rendah hatilah kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepada mereka yang durhaka itu bahkan kepada semua orang bahwa "Aku tidak akan bersedih dan marah karena orang-orang kafir menolak ajaran yang kusampaikan, karena sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada siapa pun yang durhaka atau tenggelam dalam kenikmatan duniawi dengan melupakan akhiratnya." Pesan ayat ini harus dipahami sejalan dengan firman-Nya dalam QS. Al-Qashash/: 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Kata tamuddanna terambil dari kata madda yang berarti memperpanjang atau menambah. Memang mata tidak dapat diperpanjang tetapi dia dapat diarahkan karena kata ini di sini berarti mengarahkan.

Kata azwaaj adalah bentuk jamak zauj yang berarti pasangan. Pasangan adalah satu yang menggenapakan dua hal berbeda tetapi keberpasangan menjadikannya menyatu dalam fungsi dan tujuan. Yang dimaksud adalah pasangan-pasangan kekufuran, khususnya tokoh-tokohnya. Mereka, walaupun berbeda-beda, tetapi menyatu dalam kedurhakaan kepada Allah swt. Ada juga yang memahami kata tersebut dalam arti pasangan suami istri. Memang kenikmatan akan semakin sempurna jika kehidupan duniawi dinikmati oleh sepasang pria dan wanita, tetapi sekali lagi hanya keikmatan semu bila tdak disertai oleh haq.

Kata janaah pada mulanya berarti sayap. Pengalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan bercumbu kepada betinanya, atau melindungi anak-anaknya. Sayap terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul, serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan demikian sampai berlalunya bahaya. Dari sini ungkapan itu dipahami dalam arti kerendahan hati, hubungan harmonis dan perlindungan serta ketabahan dan kesabaran bersama kaum beriman, khususnya pada saat-saat sulit dan krisis. Al-Quran yang dianugrahkan itu, serta sikap tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi sebagaimana halnya orang durhaka, merupakan bekal yang sangat berharga untuk melaksanakan tuntunan Allah swt, di atas antara lain memberi pemaafan yang baik kepada kaum pendurhaka itu.

Berlaku Tawadhu Pada Orang Yang Ada di Bawah Tingkatanmu

Contoh Teladan Ketawadhuan Rasulullah saw
Rasulullah merupakan teladan yang bukan saja kepada umat Islam, tetapi juga kepada seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Banyak contoh-contoh baik yang dilakukan Rasulullah saw. untuk diikuti oleh umatnya. Salah satunya adalah ketawadhuan Rasulullah saw. yang sangat tinggi dan tidak bisa ditandindingi oleh siapapun. Diantara contoh-contoh ketawadhuan itu dapat dilihat pada hadis-hadis berikut:

# Memberi salam kepada anak kecil, sebagaimana hadis berikut ini

Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (H.R. Bukhari).

# Rasulullah tidak pernah meninggikan diri sendiri

Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-'adhba' yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang 'arabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh Nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi hak Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. (H.R. Bukhari)

# Rasulullah melakukan pekerjaannya sendiri

Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.

# Rasulullah saw. bukanlah raja

Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu' tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (H.R. Ibnu Majah)

Berbicara lebih jauh tentang tawadhu', sebenarnya tawadhu' sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena  memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah.  Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.

Tawadhu' juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu’ mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya. Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhu’an, maka seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya.

Dengan demikian maka, tawadhu sangat penting bagi manusia, agar menghindarkan diri dari sifat sombong dan angkuh, dan juga menghindarkan diri dari dosa.

Contoh Teladan Ketawadhuan Rasulullah saw

Raja-raja di Kesultanan Turki Usmani
Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 40 Sultan.

Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan khalifah berkuasa di bidang agama atau spiritual. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun, tetapi tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti sultan terdahulu. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga dan menggantikan sultan.

Dalam perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan bukan kepada anaknya. Dengan sistem pergantian kekuasaan yang demikian itu sering timbul perebutan kekuasaan yang tidak jarang menjadi ajang pertempuran antara satu pangeran dengan pangeran yang lalinnya, yang mengakibatkan lemahnya kekuasaan Usmaniyah.

Dari 39 raja Turki Usmani ada beberapa raja yang berpengaruh, diantaranya:

1. Sultan Usman bin Ertoghrul (699-726 H/ 1294-1326 M)

Pada tahun 699 H. Usman melakukan perlusan kekuasaannya sampai ke Romawi Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah. Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:

a. Masuk Islam
b. Membayar Jizyah; atau
c. Berperang

2. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)

Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. Sebelum Urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya. Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.

3. Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)

Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. Selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.

Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.

4. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)

Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan dan Mutasya di Asia Kecil dan negeri bekas kekuasaan Bani Saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan perangan ini yang merupakan penyebab terjadinya Perang Salib. Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M.

5. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M)

Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula.

Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan mayarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang mengharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksanaan itu, pada tahun 824 H (1412 M) Sultan Muhammad I meninggal.

6. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)

Sepeninggalannya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sulatan Murad II. Cita-citanya adalah melanjutkan usaha Muhammad I. yaitu untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria.

Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.

7. Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)

Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya.

Muhammad Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad. Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:

a) Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.

b) Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.

c) Negerinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan.

Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum). Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaisar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan Masjid bagi umat Islam.

Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, kota itu dijadikan sebagai ibukota dan namanya diganti menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula diikuti oleh penguasaan Negara-negara sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu:

1) Sultan Bayazid II (1481-1512 M)

2) Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M)

3) Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M)

4) Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M)

5) Sultan Murad III ( 1573-1596 M)

Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenang-senang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya memisahkan diri,diantaranya adalah :

1) Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.

2) Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.

3) Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.

4) Katur kemudian menjadi daerah kekuasaan Persia. (Syaikhotin Abdillah: 2016)

Secara keseluruhan raja-raja yang pernah memimpin Dinasti Turki Usmani yaitu sebagai berikut :

NoNama KhalifahTahun Pengangkatan
1Usman I1281 M
2Urkhan1324 M
3Murad I1306 M
4Bayazid I1389 M
Peralihan Kekuasaan1402 M
5Muhammad I1413 M
6Murad II1421 M
7Muhammad II1444 M
8Murad II (menjabat kedua kalinya)1446 M
9Muhammad II (menjabat kedua kalinya)1451 M
10Bayazid II1481 M
11Salim I1512 M
12Sulaiman I1520 M
13Salim II1566 M
14Murad III1574 M
15Muhammad III1594 M
16Ahmad I1603 M
17Musthofa I1617 M
18Usman II1618 M
19Musthofa I (menjabat kedua kalinya)1622 M
20Murad IV1623 M
21Ibrahim1640 M
22Muhammad IV1648 M
23Sulaiman II1678 M
24Ahmad II1691 M
25Musthofa II1695 M
26Ahmad III1703 M
27Mahmud I1730 M
28Usman III1754 M
29Musthofa III1757 M
30Abdul Hamid I1774 M
31Salim III1789 M
32Musthofa IV1807 M
33Mahmud II1808 M
34Abdul Majid I1839 M
35Abdul Aziz1861 M
36Murad V1876 M
37Muhammad Rasyid V1909 M
38Muhammad Wahid al-Din1918 M
39Abdul Majid II (hanya bergelar sebagai khalifah)1924 M

Kesultanan Turki Usmani pada masanya sangat berpengaruh terhadap peradaban manusia di dunia. Bahkan pada masa kejayaannya menjadi salah satu kekaisaran adidaya yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan lainnya.

Raja-raja di Kesultanan Turki Usmani

Latar Belakang Kemunduran Kesultanan Turki Usmani
Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani memulai memasuki fase kemunduran. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Sultan Salim II (1566- 1573 M). Dimasa pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus dan sebagian kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spayol.

Pertempuran ini terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini Turki Usmanimengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa Sultan berikutnya, Sultan Murad III, pada tahun 1575 M Tunisia dapat direbut kembali.

Pada masa Sultan Murad III (1574-1595 M) kerajaan Usmani pernah berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tibris, ibukota Kerajaan Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M.

Namun,  karena kehidupan moral Sultan yang tidak baik menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri. Apalagi ketika pemerintahan dipegang oleh para sultan yang lemah seperti Sultan Muhammad III (1595-1603 M). Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul kerajaan Usmani.

Sesudah Sultan Ahmad I (1603-1617 M) situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I (1617-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak dapat diatasinya, Syaikh Al-Islam, mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M)

Pada masa Sultan Ibrahim (1640-1648 M) berkuasa, orang-orang Vinetia melakukan peperangan laut melawan dan mengusir orang Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Pada tahun 1699 M terjadi Perjanjian Karlowith yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsbrug. Dan Hamenietz, Podolia, Ukrania, Morea dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Vinetia.

Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Usmani disepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera mengkonsolidasi kekuatannya.

Pengganti Sultan Mustafa III adalah Sultan Abdul Hamid (1774-1789 M) seorang Sultan yang lemah. Pada masa Sultan Hamid mengadakan perjanjian dengan Catherine II dari Rusia yang diberi nama Perjanjian Kinarja di Kutcuk Kinarja. Isi perjanjian itu antara lain : (1) Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada dilaut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada Armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan laut putih, dan (2) Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).

Demikianlah proses kemunduran yang terjadi dikerajaan Usmani pada akhir-akhir keberadaan Dinasti Turki Usmani. Akhirnya satu persatu negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri. Bahkan beberapa daerah di Timur Tengah mencoba bangkit memberontak. Di Mesir Dinasti Mamalik akhirnya melepaskan diri dibawah Ali Bey tahun 1770 M. Di Lebanon dan Syiria, fakhruddin seorang pemimpin Druze, berhasil menguasai Palestina, dan pada tahun 1610 M merampas Ba’albak dan mengancam Damaskus. Di Persia kerajaan Syafawi juga mengadakan perlawanan terhadap Usmani. Dan Arabia juga bangkir melepaskan diri dari Usmani  dengan aliansi antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan penguasa lokal Ibnu Sa’ud pada awal paruh kedua abad ke-18 M.

Dengan demikian, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi dikerajaan Usmani ketika ia sedang mengalami kkemunduran, bukan hanya terjadi di daerah-daerah yang tidak beragama Islam seperti diwilayah Eropa Timur, tetapi juga terjadi di daerah-daerah yang berpenduduk muslim.

Gerakan-gerakan sparatisme terus berlanjut hingga pada abad ke 19 dan 20. Ditambah dengan munculnya gerakan modernisasi politik dipusat pemerintahan, kerajaan Usmani akhirnya berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M, dan mengangkat Mustafa Kamal Ataturk sebagai presiden pertama di Republik Turki. Dalam percaturan politik selanjutnya Turki tidak begitu memiliki pengaruh yang dominan bahkan orang Eropa menyebutnya The sick man of the Europa (si sakit yang ada di Eropa).

Menurut Dr. Badri Yatim, M.A. bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran adalah sebagai berikut :

# Wilayah kekuasaan yang sangat luas

Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang sangat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Dipihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus-menerus dengan berbagai bangsa.

# Heteroginitas penduduk

Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang sangat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hijaz, dan Yaman di asia. Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika. Bulgaria, Yunani Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di eropa. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur.

# Kelemahan para penguasa

Sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, kerajaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya pemerinahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat diatasi secara sempurna bahkan semakin lama semakin parah.

# Budaya korupsi

Korupsi merupaka perbuatan yang siudah umum terjadi dalam kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada yang berhak memberikan jabatan tersbut. Budaya korupsi ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pemerintah semakin rapuh.

# Pemberontakan tentara Yenisseri

Kemajuan ekspansi kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Yenisseri. Denan demikia, dapat dibayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara Yenisseri terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.

# Merosotnya perekonomian

Akibat perang yang tidak pernah berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.

# Terjadinya stagnasi dalam lapangan ilmu dan teknologi

Kerjaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.

Karena faktor-faktor tersebut, Turki Usmani menjadi lemah dan kemudian mengalami kemunduran dalam berbagai bidang. Pada periode selanjutnya dimasa modern, kelemahan kerajaan Usmani ini menyebabkan kekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada dibawah kekuasaan kerajaan Usmani, terutama di timur tengah dan Afrika Utara. (Samsul Munir Amin: 2009)

Faktor-faktor Penyebab Kemunduran Kesultanan Turki Usmani

Sejarah Berdirinya Kesultanan Turki Usmani
Dinasti Turki Usmani merupakan kekhalifahan yang cukup besar dalam Islam dan memiliki pengaruh cukup signifikan dalam perkembangan wilayah Islam di Asia, Afrika, dan Eropa. Bangsa Turki memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk para khalifah Bani Abbasiyah. Kemudian mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen, tetapi masih tetap mengaku loyal kepada khalifah Bani Abbasiyah. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya bani Saljuk (1038 M-1194 M).

Indepedensi dari khalifah Abbasiyah mulai ditunjukkan secara lebih jelas oleh Dinasti Danisymandiyah (1671 M-1177 M) dan Qaramaniyah (1256 M-1483 M). Setelah hancurnya Baghdad ditanan Bangsa Mongol, orang-orang Turki semakin mempertegas kemandirian mereka dalam membangun kekuasaannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Turki Usmani (1281 M-1924 M). Bahkan pengaruh dinasti tersebut menjangkau wilayah yang sangat luas,termasuk Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Timur.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Turki Usmani
Wilaayah Kekuasaan Kesultanan Usmaniyah
Munculnya dinasti Usmani di Turki terjadi pada saat dunia Islam mengalami fragmentasi kekuasaan pada periode kedua dari pemerintahan Abbasiyah (kira-kira abad ke-9). Sebelum itu, sekalipun telah ada kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia (755 M-1031 M), fregmentasi itu semakin menjadi sejak abad ke-9 M. Pada abad itu muncul berbagai dinasti seperti Bani Aghlab di Kairawan (800 M-900 M), Bani Thulun di Mesir (858 M- 905 M), Bani saman di Bukhara (874M-1001M) dan Bani Buwaih di Baghdad dan Syiraz (932-1000 M).

Kerajaan Usmani (Ottoman) berkuasa secara meluas di Asia Kecil sejak munculnya pembina dinasti ini yaitu Ottoman, pada tahun 1306 M. Golongan Ottoman mengambil nama mereka dari Usman I (1290 M-1326 M), pendiri kerajaan ini dan keturunannya berkuasa sampai 1922.

Diantara negara muslim Turki Usmani yang dapat mendirikan kerajaan yang paling besar serta paling lama berkuasa. Pada masa Sultan Usman, orang Turki bukan hanya merebut negara-negara Arab, tetapi juga seluruh daerah anrah Kaukasus dan kota Wina. Dari Istambul, ibukota kerajaan itu, mereka menguasai daerah-daerah disekitar laut tengah dan berabad-abad lamanya Turki merupakan faktor penting dalam perhitungan ahli-ahli politik di Eropa Barat.

Dinasti Turki Usmani merupakan kekhalifahan Islam yang mempunyai pengaruh besar dalam peradaban didunia Islam. Dan dalam makalah ini kami akan menggali hal-hal penting yang berkenaan dengan peradaban Islam dinasti Usmani di Turki. (Syaikhotin Abdillah: 2016)

Adapun pendiri daripada kerajaan Usmani yakni bangsa Turki dari kabilah Oghus yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri China. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah.

Dibawah tekanan serangan Mongol pada abad ke-13, mereka melarikan diri kedaerah barat dan mencari tempat pengungsian ditengah-tengah saudara mereka, orang-orang Turki Saljuk, di dataran tinggi Asia Kecil.

Dibawah pimpinan Ertoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Saljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka membina wilayah barunya dan memilih kota Syuhud sebagai ibukota.

Tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usmani kemudian menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah Kerajaan Usmani dinyatakan berdiri.

Penguasa pertama adalah Usman yang disebut juga dengan Usman I. Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani.

Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M) Turki Usmani dapat menaklukan Azumia (1327 M), Tasasyani (1330 M), Uskandar (1328 m), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Kerajaan Usmani.

Ketika Murad I berkuasa (1359 M-1389 M) selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah kebenua Eropa. Ia dapat menaklukan Adrianopel, Mecedonia, Sopia, Salonia dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389 M-1403 M) pengganti Murad I dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang sangat gemilang bagi umat Islam. (Samsul Munir Amin: 2000)

Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Kostantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.

Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu, putra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad  berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sedia kala.

Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkanoleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid ( Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani  mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M). (Badri Yatim: 1993)

Turki Usmani mencapai gemilangnya pada saat kerajaan ini dapat menaklukan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu Kostantinopel. Sultan Muhammad II yang dikenal dengaan Sultan Muhammad Al-Fatih (1451 M-1484M) dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Kostantinopel pada tahun 1453 M.

Ibukota Bizantium itu akhirnya dapat ditaklukan oleh pasukan Islam di bawah Turki Usmani pada masa pemerintahan Sultan Muhammad II yang bergelar Al-Fatih, sang penakluk. Telah berulang kali pasukan muslim sejak masa Umayyah berusaha menaklukan Kostantinopel, tetapi selalu gagal karena kokohnya benteng di kota tua itu.

Dengan terbukanya kota Kostantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Dan wilayah Eropa bagian timur semakin terancam oleh Turki Usmani karena ekspansi Turki Usmani juga dilakukan ke wilayah ini, bahkan sampai ke pintu gerbang kota Wina, Austria.

Akan tetapi, ketika Sultan Salim I (1512 M-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukan Persia, Syiria, dan Dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520 M-1566 M). Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, pulau Rhodes, Tunis, Budhapest dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hijaz dan Yaman di Asia, Mesir, Libia, Tunis dan Aljazair di Afrika, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. (Samsul Munir Amin: 2000)

Setelah Sultan Sulaiman meninggal terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putra nya, yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan Turki Usmani yang memerintah hampir tujuh abad lamanya (1299 M-1924 M), diperintah oleh 38 sultan.

Kejayaan kerajaan Turki Usmani dialami pada abad ke-16, ketika Dinasti Turki Usmani mencapai kejayaannya sehingga daerah kekuasaannya itu membentang dari selat Persia di Asia sampai ke pintu gerbang kota Wina dan dari laut Gaspienne di Asia sampai ke Aljazair di Afrika Barat. Penduduk Dinasti Turki Usmani terdiri dari bangsa Eropa yang berasal dari Hongaria dan bakan beragam Nasrani dan mereka ini pula yang melanjutkan pengaruh Barat menjangkit kepada minoritas Turki yang ada ditempat itu.

Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Usmani yang demikian luas dan belangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam aspek peradabannya. (Samsul Munir Amin: 2000).

Sejarah Berdirinya Kesultanan Turki Usmani